1 2 3 4 5 6

Selasa, 22 September 2015

Birokrasi yang memuakkan

dulu jaman kuliah dulu, gw inget banget ada salah satu dosen gw yang pernah cerita. sebenarnya beliau yang sebenernya pernah punya jabatan penting di instansi tempat gw bekerja sekarang lebih memilih jadi dosen dibanding bekerja di instansi yang notabenenya beliau pasti bisa dapet lebih banyak baik itu gaji, tunjangan ataupun fasilitas dibanding sekarang.

alasannya: menurut beliau birokrasi di instansi itu akan sangat membosankan bahkan cenderung memuakkan.

 waktu dosen gue ngomong kayak gitu gue sebagai mahasiswa yang waktu itu memang masih belum tau bener apa itu birokrasi awalnya masih bertanya-tanya apa memang separah itu birokrasi di instansi gue? And time flies, sekarang setelah lulus dari kampus gue dan bekerja gue baru mulai merasakan dan mengerti apa yang diomongin oleh dosen gue itu.

B I R O K R A S I

meskipun ga semua pihak akan sama seperti yang gue omongin tapi BIROKRASI ini kadang-kadang membuat gue berpikir kalau mungkinkah gue akan bertindak yang sama kalau gue menjadi pemimpin nanti? atau lebih buruk lagi?

Rabu, 09 September 2015

Pengujian Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik adalah pengujian asumsi statistik yang harus dilakukan agar hasil dari analisis regresi linear berganda yang berbasis ordinary least square (OLS) dapat digunakan. Analisis regresi yang tidak berdasarkan OLS dan tidak memerlukan persyaratan asumsi klasik contohnya adalah regresi logistik atau regresi ordinal. Demikian juga tidak semua uji asumsi klasik harus dilakukan pada analisis regresi linear, misalnya uji multikolinearitas tidak dilakukan pada analisis regresi linear sederhana dan uji autokorelasi tidak perlu diterapkan pada data cross sectional.
 
Uji asumsi klasik yang sering digunakan yaitu uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, uji normalitas, uji autokorelasi dan uji linearitas. Tidak ada ketentuan yang pasti tentang urutan uji mana dulu yang harus dipenuhi. Analisis dapat dilakukan tergantung pada data yang ada. Sebagai contoh, dilakukan analisis terhadap semua uji asumsi klasik, lalu dilihat mana yang tidak memenuhi persyaratan. Kemudian dilakukan perbaikan pada uji tersebut, dan setelah memenuhi persyaratan, dilakukan pengujian pada uji yang lain.

1. Uji Normalitas
Uji normalitas adalah untuk melihat apakah nilai residual terdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki nilai residual yang terdistribusi normal. Jadi uji normalitas bukan dilakukan pada masing-masing variabel tetapi pada nilai residualnya. Sering terjadi kesalahan yang jamak yaitu bahwa uji normalitas dilakukan pada masing-masing variabel. Hal ini tidak dilarang tetapi model regresi memerlukan normalitas pada nilai residualnya bukan pada masing-masing variabel penelitian.

Pengertian normal secara sederhana dapat dianalogikan dengan sebuah kelas. Dalam kelas siswa yang bodoh sekali dan pandai sekali jumlahnya hanya sedikit dan sebagian besar berada pada kategori sedang atau rata-rata. Jika kelas tersebut bodoh semua maka tidak normal, atau sekolah luar biasa. Dan sebaliknya jika suatu kelas banyak yang pandai maka kelas tersebut tidak normal atau merupakan kelas unggulan. Pengamatan data yang normal akan memberikan nilai ekstrim rendah dan ekstrim tinggi yang sedikit dan kebanyakan mengumpul di tengah. Demikian juga nilai rata-rata, modus dan median relatif dekat.

Uji normalitas dapat dilakukan dengan uji histogram, uji normal P Plot, uji Chi Square, Skewness dan Kurtosis atau uji Kolmogorov Smirnov. Tidak ada metode yang paling baik atau paling tepat. Tipsnya adalah bahwa pengujian dengan metode grafik sering menimbulkan perbedaan persepsi di antara beberapa pengamat, sehingga penggunaan uji normalitas dengan uji statistik bebas dari keragu-raguan, meskipun tidak ada jaminan bahwa pengujian dengan uji statistik lebih baik dari pada pengujian dengan metode grafik.

Jika residual tidak normal tetapi dekat dengan nilai kritis (misalnya signifikansi Kolmogorov Smirnov sebesar 0,049) maka dapat dicoba dengan metode lain yang mungkin memberikan justifikasi normal. Tetapi jika jauh dari nilai normal, maka dapat dilakukan beberapa langkah yaitu: melakukan transformasi data, melakukan trimming data outliers atau menambah data observasi. Transformasi dapat dilakukan ke dalam bentuk Logaritma natural, akar kuadrat, inverse, atau bentuk yang lain tergantung dari bentuk kurva normalnya, apakah condong ke kiri, ke kanan, mengumpul di tengah atau menyebar ke samping kanan dan kiri.

2. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas adalah untuk melihat ada atau tidaknya korelasi yang tinggi antara variabel-variabel bebas dalam suatu model regresi linear berganda. Jika ada korelasi yang tinggi di antara variabel-variabel bebasnya, maka hubungan antara variabel bebas terhadap variabel terikatnya menjadi terganggu. Sebagai ilustrasi, adalah model regresi dengan variabel bebasnya motivasi, kepemimpinan dan kepuasan kerja dengan variabel terikatnya adalah kinerja. Logika sederhananya adalah bahwa model tersebut untuk mencari pengaruh antara motivasi, kepemimpinan dan kepuasan kerja terhadap kinerja. Jadi tidak boleh ada korelasi yang tinggi antara motivasi dengan kepemimpinan, motivasi dengan kepuasan kerja atau antara kepemimpinan dengan kepuasan kerja.

Alat statistik yang sering dipergunakan untuk menguji gangguan multikolinearitas adalah dengan variance inflation factor (VIF), korelasi pearson antara variabel-variabel bebas, atau dengan melihat eigenvalues dan condition index (CI).

Beberapa alternatif cara untuk mengatasi masalah multikolinearitas adalah sebagai berikut:
1. Mengganti atau mengeluarkan variabel yang mempunyai korelasi yang tinggi.
2. Menambah jumlah observasi.
3. Mentransformasikan data ke dalam bentuk lain, misalnya logaritma natural, akar kuadrat atau bentuk first difference delta.

3. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas adalah untuk melihat apakah terdapat ketidaksamaan varians dari residual satu ke pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang memenuhi persyaratan adalah di mana terdapat kesamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap atau disebut homoskedastisitas.

Deteksi heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan metode scatter plot dengan memplotkan nilai ZPRED (nilai prediksi) dengan SRESID (nilai residualnya). Model yang baik didapatkan jika tidak terdapat pola tertentu pada grafik, seperti mengumpul di tengah, menyempit kemudian melebar atau sebaliknya melebar kemudian menyempit. Uji statistik yang dapat digunakan adalah uji Glejser, uji Park atau uji White.

Beberapa alternatif solusi jika model menyalahi asumsi heteroskedastisitas adalah dengan mentransformasikan ke dalam bentuk logaritma, yang hanya dapat dilakukan jika semua data bernilai positif. Atau dapat juga dilakukan dengan membagi semua variabel dengan variabel yang mengalami gangguan heteroskedastisitas.

4. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi adalah untuk melihat apakah terjadi korelasi antara suatu periode t dengan periode sebelumnya (t -1). Secara sederhana adalah bahwa analisis regresi adalah untuk melihat pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat, jadi tidak boleh ada korelasi antara observasi dengan data observasi sebelumnya. Sebagai contoh adalah pengaruh antara tingkat inflasi bulanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dollar. Data tingkat inflasi pada bulan tertentu, katakanlah bulan Februari, akan dipengaruhi oleh tingkat inflasi bulan Januari. Berarti terdapat gangguan autokorelasi pada model tersebut. Contoh lain, pengeluaran rutin dalam suatu rumah tangga. Ketika pada bulan Januari suatu keluarga mengeluarkan belanja bulanan yang relatif tinggi, maka tanpa ada pengaruh dari apapun, pengeluaran pada bulan Februari akan rendah.

Uji autokorelasi hanya dilakukan pada data time series (runtut waktu) dan tidak perlu dilakukan pada data cross section seperti pada kuesioner di mana pengukuran semua variabel dilakukan secara serempak pada saat yang bersamaan. Model regresi pada penelitian di Bursa Efek Indonesia di mana periodenya lebih dari satu tahun biasanya memerlukan uji autokorelasi.

Beberapa uji statistik yang sering dipergunakan adalah uji Durbin-Watson, uji dengan Run Test dan jika data observasi di atas 100 data sebaiknya menggunakan uji Lagrange Multiplier. Beberapa cara untuk menanggulangi masalah autokorelasi adalah dengan mentransformasikan data atau bisa juga dengan mengubah model regresi ke dalam bentuk persamaan beda umum (generalized difference equation). Selain itu juga dapat dilakukan dengan memasukkan variabel lag dari variabel terikatnya menjadi salah satu variabel bebas, sehingga data observasi menjadi berkurang 1.

5. Uji Linearitas
Uji linearitas dipergunakan untuk melihat apakah model yang dibangun mempunyai hubungan linear atau tidak. Uji ini jarang digunakan pada berbagai penelitian, karena biasanya model dibentuk berdasarkan telaah teoretis bahwa hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikatnya adalah linear. Hubungan antar variabel yang secara teori bukan merupakan hubungan linear sebenarnya sudah tidak dapat dianalisis dengan regresi linear, misalnya masalah elastisitas.

Jika ada hubungan antara dua variabel yang belum diketahui apakah linear atau tidak, uji linearitas tidak dapat digunakan untuk memberikan adjustment bahwa hubungan tersebut bersifat linear atau tidak. Uji linearitas digunakan untuk mengkonfirmasikan apakah sifat linear antara dua variabel yang diidentifikasikan secara teori sesuai atau tidak dengan hasil observasi yang ada. Uji linearitas dapat menggunakan uji Durbin-Watson, Ramsey Test atau uji Lagrange Multiplier.

Rabu, 02 September 2015

Happiness, where are you???

lately, I faced so much difficult. sometime, it's make me feel so tired, in another time it's make me feel so absurd. searching for happiness??? people say happines is simple. just believe that everyday is a present from God for you. You can meet your family, your friends and make another joke. but, somehow as a human a simple thing is not enough to make you happy everday. it's must be a changed to make you not bored.

So, happiness where are you? how can I found you? it's this world really have some happiness for me???

Rekomendasi Film part 1

The Internet's Own Boys

Based on Aaron Swartz story. Inspiring. Honestly, before watch this movie I really didn't know who is Aaron Swartz even though World knows him best. after some of his profil internet actually I become more interest with his personality. knowing about him make you know how passions can make bigger change in your life. from nothing to something. It's so sad if him should suicide his self. as a young generation (maybe not that young) I realize that we must have something people call PASSIONS to live your life....


SO, be passions everyone.............

Rabu, 26 Agustus 2015

I believe in you Allah swt

what we need to trust that the dot somehow will connect in the future (Steve Jobs)

it's qoute which say by steve job, the one who make we can make biggest changed in his life. maybe if he doesn't believe that he can and then he give up there is not changes in his life.

believe that God when guide and bless you in your way to reach your dreams.

that why I only believe in You Allah swt in attempt to reach my dreams, even though the whole universe doesn;t count on me T,T

Selasa, 18 Agustus 2015

Lirik Flashlight - Jessi

When tomorrow comes 
I'll be on my own
 Feeling frightened up 

The things that I don't know
 When tomorrow comes 
Tomorrow comes
 Tomorrow comes
And though the road is long 
I look up to the sky 
In the dark I found, I stop and I won’t fly 
And I sing along, I sing along, then I sing along
I got all I need when 
I got you and I 
I look around me, and see sweet life
 I'm stuck in the dark but you're my flashlight
 You're gettin’ me, gettin’ me through the night 
Can’t stop my heart when you shinin’ in my eyes
 Can’t lie, it’s a sweet life 
I'm stuck in the dark but you're my flashlight 
You're gettin’ me, gettin’ me through the night 
Cause you're my flash light 
You're my flash light, you're my flash light
I see the shadows long beneath the mountain top
 I'm not the afraid when the rain won't stop 
Cause you light the way 
You light the way, you light the way
I got all I need when I got you and I 
I look around me, and see sweet life
 I'm stuck in the dark but you're my flashlight 
You're gettin’ me, gettin’ me through the night 
Can’t stop my heart when you shinin’ in my eyes
 Can’t lie, it’s a sweet lifeI'm stuck in the dark but you're my flashlight
You're gettin’ me, gettin’ me through the night 
Cause you're my flash light 
You're my flash light, you're my flash light 
I got all I need when I got you and I 
I look around me, and see sweet life 
I'm stuck in the dark but you're my flashlight 
You're gettin’ me, gettin’ me through the night 
Can’t stop my heart when you shinin’ in my eyes 
Can’t lie, it’s a sweet lifeI'm stuck in the dark but you're my flashlight 
You're gettin’ me, gettin’ me through the night 
Cause you're my flash light 
You're my flash light, you're my flash light

Minggu, 16 Agustus 2015

Underground Economy





Underground Economy merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan ekonomi di hampir sebagian besar negara. Underground economy atau shadow economy, yang sering disebut juga sebagai unofficially economy; hidden economy atau black economy telah menjadi sebuah isu global dewasa ini (Scheineider & Enste, 2000). Hal ini dapat dipahami karena kinerja perekonomian yang diukur melalui besarnya Produk Domestik Bruto (PDB) seringkali menjadi bias dikarenakan semakin berkembangnya underground economy. Selain dari sisi PDB, perkembangan underground economy juga turut menciptakan kerugian bagi Negara dengan adanya jumlah pajak yang hilang. Kegiatan  penyelundupan  barang  ke  luar  negeri,  seperti  kayu,    bahan  bakar  minyak  (BBM),  sampai  hewan-hewan  langka  yang  dilindungi,  maupun  kasus-kasus  masuknya  barang-barang  dari  China  ke Indonesia  tanpa  melalui  pintu  bea  cukai,  yang  pada  akhirnya  menyebabkan  terjadinya  ketidaksamaan  pencatatan  nilai  impor  negara  kita  dari  Cina  dan  nilai ekspor  negara  tersebut  ke  Indonesia,  merupakan  beberapa  contoh  kegiatan  ekonomi bawah tanah (underground economy) yang marak diberitakan baik media massa baik cetak maupun elektronik.
Pengukuran terhadap underground economy masih menemui kesulitan dikarenakan para pelaku underground economy umumnya tidak ingin diketahui. Penggunaan data yang akurat dari beberapa indikator ekonomi sebagai proksi dalam mengukur underground economy dapat membantu dalam pengukuran underground economy.
Pengukuran terhadap underground economy menjadi penting karena keberadaan underground economy dalam suatu Negara merupakan indikasi dari : 1. Pertumbuhan dari underground economy dapat dipandang sebagai reaksi dari individu yang merasa terbebani oleh pemerintah dan memilih “exit option” dibandingkan dengan “voice option” (Albert O. Hircgman, 1970). Dalam hal ini, meningkatnya underground economy menjadi indikator dari pajak yang membebani pelaku ekonomi. 2. Perkembangan underground economy dapat menyebabkan ketidakefisienan pengambilan keputusan oleh stakehoulders karena pengukuran beberapa indikator ekonomi seperti pengangguran, angkatan kerja, pendapatan dan konsumsi  menjadi tidak akurat. 3, efek lain yang perlu diperhatikan yaitu perkembangan dari underground economy dapat menarik pekerja domestic maupun luar negeri  untuk beralih dari kegiatan ekonomi yang legal dan menciptakan kompetisi antar keduanya. 




 Description: http://tanahbumbukab.bps.go.id/uploads/underground1.jpg

2.1 Definisi Undeground Economy
Pengukuran terhadap underground economy umumnya menemui kesulitan dalam mendefinisikan underground economy itu sendiri. Secara sederhana, underground economy mencakup kegiatan-kegiatan ekonomi baik legal maupun illegal yang tidak dilaporkan sehingga terbebas dari kewajiban membayar pajak. Menurut Smith (1994), Underground economy adalah produksi barang dan jasa baik legal maupun illegal yang terlewat dari penghitungan PDB. Aktifitas illegal tersebut mencakup pasar illegal, dimana barang dan jasa diproduksi, di perjualbelikan dan dikonsumsi secara illegal. Aktifitas ini dikategorikan illegal karena secara hukum memang tidak dibenarkan (misalnya: peredaran obat terlarang atau aktifitas prostitusi). Adapun aktifitas legal yang termasuk underground economy berupa produksi barang dan jasa yang legal namun dengan sengaja yang diperjualbelikan secara tertutup dengan alasan, yaitu: (i) untuk menghindari pembayaran pajak; (ii) untuk menghindari pembayaran konstribusi perlindungan social; (iii) menghindari standar yang telah ditetapkan seperti upah minimum, waktu kerja maksimum, standar keselamatan, dst. (iv) menghindari penyetujuan terhadap prosedur administrasi yang telah ditetapkan.
Kelompok pertama (aktifitas illegal yang masuk ranah underground economy) biasa dikenal sebagai black market, sedangkan kelompok kedua (aktifitas legal yang masuk underground economy) biasa dikenal sebagai irregular economy. Selain itu, transaksi-transaksi yang tidak terlapor seperti illegal logging, illegal mining, aktifiitas penyelundupan solar, banyaknya unit kegiatan usaha yang tidak berbadan hukum juga indikasi terjadinya aktifitas underground economy. Aktifitas black market sendiri dibagi menjadi dua (chart 1), yaitu unproductive black market, yaitu black market, dimana tidak ada nilai tambah yang diciptakan,seperti penyewaan pembunuh bayaran dan perdagangan barang curian. Yang kedua adalah productive black market, dimana penjual dan pembeli mendapat keuntungan dari perdagangannya, dan tidak satupun dari mereka yang memiliki kepentingan lain (iri, ikut campur, kepentingan moral) untuk menghentikannya. Dalam tulisan singkat ini yang masuk area underground economy adalah kegiatan productive black market, meskipun dalam konsep dan definisi neraca nasional hal ini masuk dlm kategori teori produksi, namun sering tidak dimasukkan dalam perhitungan karena alasan statistic (susah pendataannya). Sebagai ilustrasi untuk mengetahui kaitan underground economy dengan konsep ekonomi lainnya divisualisasikan di chart 2. Menurut cowell (1990) dalam montreal economy institute (2007). Garis I,membatasi area produksi dan nonproduksi (missal transfer/pemberian barang hasil produksi).  Garis II, mengukur/meliputi PDB (official GDP). Sedangkan garis III, membatasi daerah underground ekonomi dengan area unproductive black market. Daerah irisan g merupakan area underground economy yang tertangkap dalam perhitungan PDB. Himpunan bagian d mencakup kegiatan irregular economy yang tidak terjaring dalam PDB (productive black market). Sedangkan himpunan bagian e merupakan daerah yang mencakup kegiatan unproductive black market. Jadi, yang termasuk area underground economy adalah area g dan d, yang meliputi: produksi barang dan jasa,baik  legal dan ilegal, yang dijual atau dibeli secara illegal.

Klasifikasi Aktivitas Underground Economy
Transaksi Moneter
Transaksi Non-moneter
1.  Aktivitas Ilegal
·  Perdagangan barang hasil pencurian
·  Industri dan Penjualan obat-obatan terlarang
·  Perjudian
·  Prostitusi
·  Pencucian Uang
·  Penyelundupan
·  Penggelapan
·    Barter obat-obatan terlarang
·    Pencurian untuk digunakan sendiri
·    Produksi obat-obatan terlarang untuk penggunaan sendiri
·     
2. Aktivitas Legal
Pengelakan Pajak
·  Pendapatan yang tidak dilaporkan
·  Upah, gaji, dan asset dari pekerjaan yang tidak dilaporkan dari barang dan jasa yang legal
·  Pembayaran di bawah faktur
Penghindaran Pajak
·  Diskon untuk karyawan
·  Tunjangan
Pengelakan Pajak
·    Barter barang dan jasa
Penghindaran Pajak
·    Berusaha sendiri tanpa bantuan pihak lain

Description: http://tanahbumbukab.bps.go.id/uploads/underground2.jpg
Besaran nilai underground economy di beberapa negara bervariasi. Menurut beberapa peneliti (Enste dan DR Schneider (2002)), dari tahun 1998-2000, persentase underground economy terhadap PDB untuk negara berkembang, transisi, dan negara maju berturut-turut sebesar 35% - 44%; 21% - 30%; 14% - 16%. Kegiatan ini tidak pernah dilaporkan dalam SPT pajak penghasilan. Sehingga masuk dalam criteria penyelundupan pajak (tax evasion).Terdapat hubungan negative antara kemajuan suatu negara dengan besaran underground economy. Semakin maju suatu negara, yang diindikasikan dengan terjaminnya kepastian hukum, rendahnya pajak yang diterapkan, kuatnya system hukum, maka besaran dari underground economy akan berkurang. Sebaliknya di negara-negara berkembang, meskipun sulit diperkirakan besaran tersebut (karena kelangkaan data), namun diyakini besaranya lebih besar dibandingkan dengan yang terjadi di negara-negara maju. Di Indonesia sendiri, besaran underground economy masih berada di level 21% lebih selama kurun tahun 2000 - 2003 (menurut Korean institute of public finance).
Tabel besarnya underground economy terhadap PDB beberapa negara Asia (%).
Negara/Tahun
1992/2000
2000/2001
2002/2003
(1)
(2)
(3)
(4)
Bangladesh
35,6
36,5
37,7
Kamboja
50,1
51,3
52,4
Hongkong
16,6
17,1
17,2
Indonesia
19,4
21,8
22,9
Korea
27,5
28,1
28,8
Malaysia
31,1
31,6
32,2
Thailand
52,6
53,4
54,1
Singapura
13,1
13,4
13,7
Sumber : korean institute of public finance
Apabila dibandingkan dengan singapura, posisi Indonesia masih kalah. Hal ini juga sejalan jika kita sandingkan dengan indikator lainnya, misalkan indeks CPI (corruption perception index) tahun 2009 yang dipublikasikan oleh transparenscy international. Indonesia peringkat 116, sedangkan singapura peringkat 3. Singapura dengan keterbatasan luas wilayah dan SDA, justru memiliki posisi dan peran yang sangat strategis dalam kancah perekonomian global.  PDB nya saja jauh melampaui Indonesia.

2.2 Faktor yang mendorong adanya underground economy
2.2.1 Pembebanan Pajak
Dari beberapa penelitian sebelumnya banyak ditemui bahwa pembebanan pajak
Metode pengukuran underground economy
Sangat sulit untuk mendeteksi adanya underground economy.  Beberapa ekonom menggunakan metoda pendekatan yang belum tentu sama satu sama lain. Beberapa pendekatan yang digunakan untuk mengetahui besarnya nilai underground economy adalah sebagai berikut:
a.  Pendekatan langsung. Melalui survey terhadap pelaku di kegiatan yang masuk kategori underground economy.
b.   Pendekatan moneter. Biasanya transaksi-transaksi yang masuk kategori underground economy menggunakan uang cash dalam pembayarannya. Jika money supply, baik cash maupun deposit bank meningkat melebihi dari nilai transaksi-transaksi yang terlapor, maka selisihnya digunakan untuk mengestimasi besaran underground economy.
c. Pendekatan diskrepansi dalam official statistic. Menghitung selisih antara jumlah pengeluaran dan pendapatan dalam neraca nasional. Selain itu juga menggunakan penurunan tingkat partisipasi angkatan kerja sebagai pendekatannya.
d.  Pendekatan konsumsi listrik. Apabila pertumbuhan konsumsi listrik melampaui pertumbuhan ekonomi (aktivitas perekonomian), maka dapat digunakan untuk mengestimasi pertumbuhan underground economy.
e.   Pendekatan dengan metode MIMIC (multiple indicator multiple causes). Metode ini memanfaatkan ilmu ekonometrika, yaitu dengan membangun suatu model matematik yang melibatkan beberapa indicator terkait underground ekonomi (partisipasi angkatan kerja, currency, dsb).
Kemunculan underground economy, ditengarai terjadi karena didorong oleh beberapa penyebab, diantaranya adalah;  tingginya beban pajak, intensitas peraturan yang berlaku (misalnya: dinamika pasar kerja), transfer sosial, ketidakpercayaan terhadap lembaga publik.
Bagaimana dampak underground economy terhadap perekonomian? Karena diyakini bahwa transaksi-transaksi tersebut bernilai sangat besar. Bagi pemerintah, jelas ini akan merugikan, karena pajak yang seharusnya dapat diperoleh menjadi tidak tercapai.  Akibatnya pendapatan pemerintah akan berkurang. Lalu, bagaimana pengaruhnya terhadap statistic (angka) resmi? Tentunya akan menjadikan statistic yang diperoleh dari survei-survei menjadi menyesatkan (misleading). Termasuk diantaranya angka pertumbuhan ekonomi, pengangguran, pendapatan.
Meskipun aktifitas underground economy terkesan bernada negatif, akan tetapi tetap memiliki arti penting dalam perekonomian. Lalu, apa kaitan antara underground economy dengan pertumbuhan ekonomi (aktifitas ekonomi)? Seperti yang sudah disinggung di atas, bahwa underground economy sendiri merupakan bagian dari aktivitas ekonomi. Tentunya sirkulasi uang yang berputar di sektor underground economy ini pada gilirannya akan mempengaruhi sector ekonomi yang tercakup dalam PDB (official economy). Mata rantai ekonomi yang tercipta dari munculnya aktifitas-aktifitas underground economy, mulai dari bagian hulu sampai hilir, semuanya membentuk nilai tambah masing-masing. Nilai tambah yang tercipta ini, sebagai kompensasi penggunaan (balas jasa) faktor produksi yang pada gilirannya akan memicu peningkatan demand. Sehingga akan membentuk keseimbangan pasar baru (supply demand). Akibatnya akan terjadi peningkatan produksi barang dan jasa (ekonomi tumbuh).
Upaya untuk mencegah/mengurangi terjadinya altifitas-aktifitas underground economy sudah barang tentu menjadi perhatian semua Negara. Pada umumnya, cara yang biasa dilakukan adalah memperkuat pengawasan dan punishment (represif). Akan tetapi, cara tersebut tidak terlalu efektif dalam memecahkan kasus yang cukup fundamental, khususnya yang berkaitan dengan transaksi-transaksi illegal seperti jual beli narkoba dan prostitusi. Alternatif upaya pencegahan yang dalam jangka panjang diyakini lebih efektif adalah dengan memperbaiki/meningkatkan kualitas pelayanan-pelayanan umum, menerapkan system pajak yang sesuai/wajar, menciptakan kehidupan masyarakat yang demokratis dan mendorong pembentukan karakter masyarakat yang lebih bermoral.